REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ahmad Syafii Maarif
Suatu
ketika, beberapa tahun yang lalu, ketua sebuah lembaga di lingkungan
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendapat undangan dari Jerman untuk
menghadiri pertemuan di sana. Teman ini memerlukan bantuan untuk beli
tiket pergi-pulang sebesar 1.000 dolar AS. Pengusaha Deddy Julianto
saya kontak jika mungkin membantu. Tanpa banyak bertanya, langsung
dijawab oke.
Pengalaman lain banyak sekali untuk dicatat dalam perkara
bantu-membantu ini. Pak Deddy adalah seorang pengusaha nyah-nyoh (suka
memberi) terhadap siapa saja yang memerlukan bantuan, termasuk membatu
panti asuhan di Jawa Tengah.
Entah sudah berapa ratus juta yang
dikeluarkan untuk kepentingan sosial. Kadang-kadang juga di bantunya
anak-anak muda yang terlibat dalam pem bentukan partai politik,
sekalipun mereka berujung pada kegagalan. Anak-anak muda yang punya
ambisi politik ini pada umumnya hanya punya modal idealisme, sedangkan
modal ekonomi hampir tidak mereka miliki.
Akibatnya, mereka
sering terombang-ambing menghadapi realitas politik yang ganas, akibat
selera dan gesekan kepentingan para pemodal. Saat saya tidak lagi duduk
di jajaran PP Muhammadiyah pada Juli 2005, Pak Deddy langsung
menawarkan agar mau tinggal di apartemen bila ada keperluan ke Jakarta,
tidak lagi lingkungan kantor PP Muhammadiyah di kawasan Menteng Raya.
Maka, kemudian didapatlah sebuah apartemen di Taman Rasuna, Kuningan.
Semula
disewa di lantai 19, kemudian malah dibelinya yang berada di Tower 2
Lt 10B yang saya tempati sampai hari ini jika ke Jakarta. Semua biaya
adalah tanggungan sahabat kita ini. Pernah saya mau pindah ke kantor
Maarif Institute di kawasan Tebet, Pak Deddy tetap saja menyarankan agar
tetap saja di Kuningan.
Saya tidak tahu mengapa perhatian Pak
Deddy atas diri saya demikian besar, padahal untuk sekadar tinggal
selama satu atau dua hari di Jakarta dengan kekuatan sendiri masih
mungkin.
Bukan saja Pak Deddy, anak sulungnya Defy dan sopirnya
Gazali turut pula peduli dalam mengurus saya. Saya tidak mungkin
membalas jasa keluarga ini yang telah berbuat baik selama bertahun-
tahun kepada saya.
Tidak hanya sampai di situ. Pernah pula saya
di beri kartu kredit BNI yang boleh digunakan untuk keperluan
transaksi keuangan, termasuk untuk beli tiket pesawat, sekalipun saya
tidak sampai hati menggunakannya. Mungkin karena tidak pernah
dimanfaatkan itu, setelah dua tahun tidak diperpanjang lagi.
Cobalah
Anda bayangkan, betapa Pak Deddy "memanjakan" saya, yang tidak punya
pertalian darah apa pun. Ada ketentuan di BNI, kartu kredit hanya
diberikan kepada orang yang berusia di bawah 60 tahun, padahal saya
ketika itu sudah kepala tujuh. Karena Dirut BNI adalah teman dekatnya,
kartu itu diberikan juga.
Kini sahabat saya ini setelah operasi
jantung by-passdi RS Harapan Kita pada 13 Maret, hari berikutnya
sekitar pukul 11.40 WIB telah dipanggil Allah SWT untuk selama-lamanya.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, semoga husnul khatimah, amin.
Pak
Deddy punya jaringan yang luas, baik dengan sesama pengusaha, lintas
agama, para jenderal, maupun dengan politikus dan anak- anak muda.
Sebagai alumnus PII (Pelajar Islam Indonesia) dengan tempaan semangat
perjuangan yang kental, Pak Deddy punya kepedulian sangat tinggi
terhadap masalah-masalah bangsa dan negara.
Mungkin pada sisi
inilah pandangan Pak Deddy dan pandangan saya bertemu pada suatu titik,
sekalipun tidak ba nyak yang dapat disumbangkan untuk kepentingan
bangsa dan negara yang sarat beban ini.
Sahabat dekatnya banyak
sekali, diantaranya, Ir Salahuddin Wahid dan Dr dr Wahyu Kasih SH MH.
Untuk Pak Salahuddin, tidak perlu dikomentari lagi karena sudah sangat
terkenal.
Tetapi, buat Bung Wahyu, catatan apresiatif perlu
ditambahkan dalam kaitannya dengan Pak Deddy dan dunia pendidikan.
Sebagai seorang pengusaha yang berhasil, Bung Wahyu, seorang penganut
agama Buddha berasal dari Kalimantan, telah sejak lama mengembangkan
STIE Kasih Bangsa di kawasan Kebon Jeruk, sebuah sekolah setengah gratis
untuk mahasiswa yang serba kekurangan.
Pak Deddy dan saya
telah diminta untuk duduk sebagai pembina kehormatan bagi sekolah ini.
Hebatnya, belum lagi rampung kuliah, mahasiswa STIE telah diserap dunia
kerja. Pekerjaanlah yang mencari mereka, bukan sebaliknya.
Selama
Pak Deddy dirawat sampai dioperasi, Bung Wahyu telah terlibat secara
kejiwaan dalam menunggui sahabat kita ini. Dalam proses pemakaman
menjelang shalat Jumat, 15 Maret, di kawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur,
saya perhatikan betul wajah Bung Wahyu yang menanggung perasaan berat
melepas sahabat kami ini. Selamat jalan Pak Deddy Julianto, semoga
dalam perjalanan di alam sana, semuanya berjalan lancar di bawah
naungan rahmat, ampunan, dan keridaan Allah. Dan kepada keluarga yang
ditinggal diberikan-Nya ketabahan, kesabaran, dan ketegaran dalam
menghadapi musibah kematian yang tidak ringan ini. Kita semua pasti
menyusul, cepat atau lambat!
Home »
» Perginya Seorang Sahabat

Posting Komentar